HomeRagamLife StyleRokok, Banyak Bahaya yang Terlupakan

Rokok, Banyak Bahaya yang Terlupakan

Rokok masih menjadi dilema di Indonesia. Kehadirannya dianggap menjadi menyelamat devisa negara. Namun, lebih banyak menimbulkan dampak negatif.

Rokok masih menjadi dilema di Indonesia. Kehadirannya dianggap menjadi menyelamat devisa negara. Namun, lebih banyak menimbulkan dampak negatif.

Teknokra.com: Peringatan bahaya merokok dari baliho yang terpampang di jalanan terkesan lebih tegas. Pilhan kata “Rokok Membunuhmu!” menjadi peringatan keras bagi perokok. Namun, peminat rokok di Indonesia tak kunjung menurun.

Banyak orang yang masih setia dengan barang yang berbahan dasar tembakau ini. Ade Agung Darmawan, mahasiswa agribisnis 2012 ini mengaku sudah merokok sejak duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas. Menurutnya, pengaruh lingkungan membuatnya menjadi seorang perokok. Agung sebenarnya sadar bahwa rokok itu tidak baik. Namun, saat dia berkumpul dengan teman-temannya, ia merasa sulit menolak tawaran merokok. “Kalo kumpul, harus mengimbangi,” ujarnya.

Sebagai perokok, Agung cukup selektif. Ia tak sembarangan mengonsumsi rokok. Agung hanya memilih rokok yang berfilter. Menurutnya, rokok yang berfilter lebih aman karena mempunyai penyaringan asap rokok. Sampai saat ini, ia mengaku belum merasakan kendala apa pun akibat rokok.

Meskipun tidak setiap hari, namun Agung mengaku tak bisa lepas dari rokok. Ia pernah mencoba untuk menghentikan kebiasaannya. Namun, baru tiga minggu berjalan, ia kembali mengonsumsi rokok. Tak banyak rokok yang dihisapnya, hanya satu sampai dua batang saja. Agung berharap dirinya bisa berhenti merokok. Tetapi agung merasa kesulitan karena tak ada yang melarangnya secara tegas.

Ariyanto punya pengalaman sendiri saat menjadi perokok. Mahasiswa D3 Akuntansi 2011 ini mengaku bahwa dirinya mengenal rokok saat masih menjadi siswa Sekolah Dasar. Hal ini terjadi akibat sering bergaul dengan orang yang usianya jauh diatasnya. Dari situ, ia merasa ketagihan dan memutuskan untuk melanjutkan merokok.

Saat itu, Ari merokok dengan sembunyi-sembunyi. Namun, suatu hari ibunya pernah mendapati Ari merokok di dalam kamar. Orang tuanya tak tinggal diam. Ari yang masih duduk dibangku SD akhirnya diberi hukuman. Sejak itu, ia jera dan berhenti merokok. Tak jarang, ia jua ditawari rokok oleh teman-temannya. Namun, tawaran itu selalu Ari tolak dengan sopan. ” Kalo buat diri kita udah enggak baik, ngapain diikutin,” ujarnya.

Kebiasaan merokok juga memberikan kerugian bagi perokok pasif. Meski tak mengkonsumsi rokok, Henny Indah (P. Biologi ’12) merasa dirugikan oleh perokok. Henny yang tidak terbiasa dengan asap rokok mengaku sulit bernafas ketika ada asap rokok yang mengebul mengenai dirinya.” Kadang kesal, kalau negor tapi enggak diindahkan, ya lebih baik geser aja deh” ujar Henny.

Dari segi agama, rokok ternyata menuai kontroversi. Hal ini diakui oleh Dedy Hermawan. Dosen mata kuliah agama islam itu bingung karena beberapa fatwa agama membolehkan, namun ada juga yang mengharamkan. Dedy menjelaskan bahwa rokok memang tidak disinggung jelas di dalam Alqur’an seperti judi ataupun minuman keras. Dedy menilai bahwa rokok adalah perbuatan yang merusak diri sendiri. “Allah sudah memberi sinyal, jauhilah perbuatan yang merugikan atau sia-sia,” ujar Dedy.

Salah seorang dosen di Fakultas Kedokteran Unila, dr. Susianti mengatakan semua orang sebenarnya sudah tahu bahaya merokok. Bahkan, pringatan ini sudah ada pada label kemasan rokok. Berbagai gangguan kesehatan seperti batuk, gannguan pada paru-paru,jantung, stroke bahkan kanker pun dapat menghinggapi perokok. Menurutnya, kandungan yang terdapat dalam rokok adalah bahan yang berbahaya bagi tubuh, seperti karbon monoksida, nikotin. Ia sepakat bahwa perokok pasif seringkali dirugikan. Ia sering menjumpai kasus suami yang merokok, namun istrinya yang terkena kanker paru-paru.

Ia tak menampik bahwa rokok memang mempunyai manfaat untuk meningkatkan gairah. Namun, ketergantungan terhadap rokok dapat menyebabkan seseorang gelisah terus-menerus saat tak menghisapnya. Ia menambahkan, kebiasaan merokok biasanya muncul karena coba-boa. Kandungan nikotin yang menyebabkan seseorang merasa terstimulasi dan lebih bergairah membuat aksi coba-coba itu berlanjut.

Menurutnya, iklan rokok yang ada di Indonesia sangat mempengaruhi masyarakat. Perokok sering digambarkan sebagai laki-laki gagah. Iklan tersebut memberikan kesan rokok seolah menjadi simbol kegagahan. Akibatnya, peringatan bahaya merokok seringkali tak digubris.

Lebih lanjut ia menanggapi, jika perokok ingin berhenti merokok harus diawali dari diri sendiri. “Tidak ada terapi khusus bagi perokok untuk berhenti dari kecanduan, hanya kemauan dan tekat yang kuat untuk dapat lepas dari jeratan rokok,” ujarnya. Diakhir wawancara, dr. Susi menyarankan agar orang sebaiknya tidak merokok, karena rokok bisa membahayakan nyawa.

Laporan : Khorik Istiana

Shares 0
Bahan Bakar Minyak d
Zakati, Sebuah Perma

redaksiteknokra@gmail.com

Rate This Article:
NO COMMENTS

Sorry, the comment form is closed at this time.