HomeRagamInovasiZakati, Sebuah Permainan yang Islami

Zakati, Sebuah Permainan yang Islami

Zakati-gamesTeknokra.com: Tahu permainan monopoli? Kurang lebih begitulah permainan satu ini. Permainan yang diberi nama Zakati ini merupakan buah pikiran dari Ageng Sadnowo S.T., M.T.

Dengan kedua rekannya Amrul, S.T., M.T. dan Nandi Hairudin, S.T., M.T. Permainan yang digagas sejak tahun 2006 ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa senang dalam bersedekah dan berzakat sejak kecil. Permainan ini hampir serupa dengan permainan monopoli yang kemudian dikemas dengan bentuk baru.

***

Pada tahun 2004, ketika itu lembaga zakat di Unila belum terbentuk. Ageng dan kedua rekannya merasa persentase pajak yang dialokasikan untuk kegiatan sosial masih kurang dari 1%. Keadaan ini menggerakkan hati mereka untuk membuat perkumpulan sedekah yang setiap tahunnya mengalami progress dan simpati dari orang sekitar. Akhirnya, terbentuklah Lazis (Lembaga Amal, Zakat, Infaq, dan Shoddaqoh) pada tahun 2008. Saat ini Lazis bertempatkan di masjid Al-Wasi’i sejak tahun 2009.

Seiring dengan proses pengadaan Lazis, Ageng dan rekan-rekannya pun berkeinginan untuk menumbuhkan rasa senang bersedekah dan berzakat sejak kecil. Setelah melalui pemikiran dan diskusi yang cukup dalam, akhirnya ide pembuatan permainan ini muncul di tempat yang tidak terduga. Saat itu, tahun 2004, Ageng sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Tiba-tiba jatuhlah sebuah permainan monopoli di depannya. Seketika, ide cemerlang itu muncul. Bagaimana cara membuat permainan semacam monopoli yang dikemas dalam bentuk yang baru, menjadi awal pemikirannya. Idenya berupa antitesis dari sistem ekonomi kapitalis seperti monopoli pada umumnya terhadap sistem monopoli berazaskan jiwa sosial. Tidak hanya harta yang menjadi tolak ukur kemenangan, tetapi juga zakat dan sedekah pemainnya.

Berbeda dengan monopoli yang menggunakan dadu untuk memulai permainan, zakati menggunakan tumpukkan kartu yang di dalamnya terdapat dua pilihan. Pemain diharuskan memilih salah satu pilihan yang ada di balik kartu-kartu tersebut sebagai langkah-langkah permainan. Uniknya, di balik masing-masing kartu tersebut terdapat surat-surat alqur’an yang tanpa disadari membantu pemain untuk menghafal surat, ayat, dan diturunkan dimana surat tersebut.

Ada tiga mata uang yang digunakan dalam permainan ini, yaitu dinar, dolar, dan rupiah. Dari ketiga mata uang yang digunakan ageng memilih dinar sebagai standar harga. Selain nilainya yang stabil, tidak naik turun dalam kurs, nilai mata uang ini juga ada pada berat materinya bukan nominal yang tertera.

Dalam permainan ini terdapat pos-pos dimana pemain diwajibkan membayar zakat atau sedekah yang bertujuan untuk membiasakannya di kehidupan nyata. Sasaran permainan adalah keluarga yang terdapat orangtua dan anak-anak dimana dapat dijadikan sebagai wahana bermain peran, sang anak bermain Zakati dan orangtua membimbing anak-anaknya.

Zakati mulai diproduksi pada tahun 2009 setelah melalui 2 tahun tahap desain. Produksinya menyerap dana dekitar 27 juta rupiah untuk 500 piece. Dana tersebt diperoleh Ageng dari sponsor.

Meskipun sebelumnya Ageng dan rekannya mengalami kendala dalam mengembangkan konsep game, kendala terbesar justru muncul ketika tahap pemasaran. Tahap ini berjalan lambat, selain karena kesibukan lain, pengetahu teknik pemasaran pun jadi kendala. Meskipun demikian, Zakati saat ini telah disosialisasikan ke Sekolah-sekolah Dasar, bukan hanya di Lampung tetapi juga Kalimantan, Bali, Riau, Jawa, Aceh, bahkan sampai Australia.

Saat ini Zakati juga tengah mengalami kendala pendanaan hingga berhenti diproduksi. Menurut Ageng, Zakati akan kembali diproduksi jika ada perusahaan yang mensponsori.

Sayang, dengan harapan besar Ageng, zakati masih kurang menarik minat anak-anak untuk memainkannya lantaran lebih tertarik dengan game online, atau game yang bisa diakses melalui gadget mereka. Untuk itu, Ageng dan rekan-rekannya berencana membuat Zakati versi online agar tujuan utama permainan ini tersalurkan kepada generasi muda. Sebagai hasil kerja kerasnya kini Ageng telah memiliki 3 sertifikat, yakni hak cipta, hak merk permainan zakati, serta hak paten alat bantu pengingat rakaat sholat. “Semoga dengan adanya zakati dapat menumbuhkan jiwa charity terutama untuk anak-anak dan menumbuhkan mental dermawan”ungkap Ageng.

Laporan : Siti Sufia

Shares 0
Rokok, Banyak Bahaya
Hedonisme Mahasiswa

redaksiteknokra@gmail.com

Rate This Article:
NO COMMENTS

Sorry, the comment form is closed at this time.